Kebudayaan Kalimantan
1.1
Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara
multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi
sosio-kultural, agama maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang
ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara kesatuan republik indonesia (NKRI)
sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari
200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang
berbeda. Selain itu mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam
seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu serta
berbagai macam aliran kepercayaan .
Kebudayaan adalah salah satu aset penting
bagi sebuah Negara berkembang, kebudayaan tersebut untuk sarana pendekatan
sosial, simbol karya daerah, asset kas daerah dengan menjadikannya tempat
wisata, karya ilmiah dan lain sebagainya. Dalam hal ini suku Dayak Kalimantan
yang mengedepankan budaya leluhurnya, sehingga kebudayaan tersebut sebagai
ritual ibadah mereka dalam menyembah sang pencipta yang dilatarbelakangi
kepercayaan tradisional yang disebut Kaharingan.
1.2 Tujuan
Tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah untuk menghasilkan suatu informasi yang dapat
di sajikn untuk penyajian presentasi makalah.dengan adanya penyajian yang
baik tentang adat istiadat, maka dapat di pergunakan
BAB II
PEMBAHASAN
1.1
Geografi
Antara daratan Asia dan Australia terletak
Nusa Tenggara Indonesia termasuk pulau Borneo yang oleh orang Indonesia
dinamakan Kalimantan. Nama Borneo mungkin berasal dari nama Brunei dan sering
digunakan untuk menamai seluruh pulau sedangkan nama Kalimantan mungkin berasal
dari keadaan pulau yang punya banyak kali, banyak mas, dan banyak intan,
sehingga menjadi Kalimantan. Menurut beberapa pihak lain mungkin nama
Kalimantan berasal dari nama Lamanta. Lamanta adalah sagu dari pohon yang baru
ditebang, yang masih mentah. Pada umumnya nama Kalimantan digunakan untuk
bagian geografis tanah di bawah pemerintahan Indonesia dan West Malaysia atau
nama Borneo untuk bagian di bawah pemerintahan Malaysia.
1.2 Persebaran
suku-suku Dayak di Pulau Kalimantan
Dikarenakan
arus migrasi yang kuat dari para pendatang, Suku Dayak yang masih
mempertahankan adat budayanya akhirnya memilih masuk ke pedalaman. Akibatnya,
Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadi sub-sub etnis tersendiri.
Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam
sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975).
Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan
budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan
adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini
disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di
tiap-tiap pemukiman mereka.
Etnis Dayak
Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum
Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub
suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan.
1.3 Pengertian
Suku Dayak
Dayak atau Daya
adalah nama yang oleh penduduk pesisir pulau Borneo diberi kepada penghuni
pedalaman yang mendiami Pulau Kalimantan yang meliputi Brunei, Malaysia yang
terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan
Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan . Budaya
masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan
orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan
"perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama
kekeluargaannya.
Ada yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun yakni rumpun Klemantan
alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan
Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara
ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau
Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan:
"Barito Raya (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari
kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau),
"Dayak Darat" (13 bahasa)
"Borneo Utara" (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan
di Filipina.
"Sulawesi Selatan" dituturkan 3 suku Dayak di
pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak
Banuaka.
"Melayik" dituturkan 3 suku Dayak: Dayak
Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban
dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Kutai, Berau, Kedayan
(Brunei), Senganan, Sambas yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa
suku berbudaya Melayu yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah
Tidung, Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) dan Paser (rumpun Barito Raya).
1.4 Sejarah
Suku Dayak
Suku Dayak adalah suku asli
Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, gunung, dan
sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu
yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai
nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak
adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah
berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.
Pada tahun 1977-1978 saat itu,
benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih
menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan
dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut
pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang
sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka
datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.
Belum lagi kedatangan orang-orang
Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak
hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang
lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan
kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku
yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.
Suku Dayak pernah membangun sebuah
kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”,
yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang
diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 . Kejadian tersebut mengakibatkan
suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar
berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak
bersama masuknya para pedagang Melayu sekitar tahun 1608 .
Sebagian besar suku Dayak memeluk
Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut
dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang
menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan
Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang
Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk
rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian
Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah
Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).
Tidak hanya dari nusantara,
bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan
mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari
manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah
Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era
Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.
Kedatangan bangsa Tionghoa tidak
mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung
karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar
di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan
bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen,
belanga (guci) dan peralatan keramik.
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa
telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan
perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan
kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa,
Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima
orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang
Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera,
barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto
kertodipoero,1963)
1.5 Sistem
Religi
Religi asli suku Dayak tidak
terlepas dari adat istiadat mereka. Bahkan dapat dikatakan adat menegaskan
identitas religius mereka. Dalam praktik sehari-hari, orang dayak tidak pernah
menyebut agama sebagai normativitas mereka, melainkan adat. Sistem religi ini
bukanlah sistem hindu Kahuringan seperti yang dikenal oleh orang-orang pada
umumnya.
Orang Dayak Kanayatn menyebut
Tuhan dengan istilah Jubata. Jubata inilah yang dikatakan menurunkan adat
kepada nenek moyang Dayak Kanayatn yang berlokasi di bukit bawakng . Dalam
mengungkapkan kepercayaan kepada Jubata, mereka memiliki tempat ibadah yang
disebut panyugu atau padagi. Selain itu diperlukan juga seorang imam
panyangahatn yang menjadi seorang penghubung, antara manusia dengan Tuhan (
Jubata ).
Sekarang ini banyak orang Dayak
Kanayatn yang menganut agama Kristen dan segelintir memeluk Islam. Kendati
sudah memeluk agama, tidak bisa dikatakan bahwa orang Dayak Kanayatn
meninggalkan adatnya. Hal menarik ialah jika seorang Dayak Kanayan memeluk
agama Islam, ia tidak lagi disebut Dayak, melainkan Melayu atau orang Laut .
1.6 Bahasa
Dayak Kanayatn memakai bahasa
ahe/nana' serta damea/jare dan yang serumpun. Sebenarnya secara isologis (garis
yang menghubungkan persamaan dan perbedaan kosa kata yang serumpun) sangat
sulit merinci khazanah bahasanya. Ini dikarenakan bahasa yang dipakai sarat
dengan berbagai dialek dan juga logat pengucapan. Beberapa contohnya
ialah : orang Dayak Kanayatn yang mendiami wilayah Meranti (Landak) yang
memakai bahasa ahe/nana' terbagi lagi ke dalam bahasa behe, padakng bekambai,
dan bahasa moro. Dayak Kanayatn di kawasan Menyuke (Landak) terbagi dalam
bahasa satolo-ngelampa', songga batukng-ngalampa' dan angkabakng-ngabukit.
selain itu percampuran dialek dan logat menyebabkan percampuran bahasa menjadi
bahasa baru.
Banyak Generasi Dayak Kanayatn
saat ini tidak mengerti akan bahasa yang dipakai oleh para generasi tua. Dalam
komunikasi saat ini, banyak kosa kata Indonesia yang diadopsi dan kemudian
"di-Dayak-kan". Misalnya ialah :bahasa ahe asli : Lea
,bahasa indonesia : seperti ,bahasa ahe sekarang : saparati .Bahasa
yang dipakai sekarang oleh generasi muda mudah dimengerti karena mirip dengan
bahasa indonesia atau melayu. Misalnya ialah :bahasa ahe asli : Lea
,bahasa indonesia : seperti ,bahasa ahe sekarang : saparati .Bahasa
yang dipakai sekarang oleh generasi muda mudah dimengerti karena mirip dengan
bahasa indonesia atau melayu.
1.7 Adat
Istiadat Suku Dayak
Di bawah ini ada beberapa adat
istiadat suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural
Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai
sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki
oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari
pedalaman Kalimantan.
1.7.1 Upacara
Upacara Tiwah merupakan acara adat
suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang
orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat
yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah
meninggal dunia.
1.7.2 Dunia Supranatural
Dunia Supranatural bagi Suku Dayak
memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena
supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan
manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat
cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan
supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang.
Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari
keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media
burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.
Mangkok merah. Mangkok merah
merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak
merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak
sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok
merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari
penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu.
Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang
luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal
dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.
Mangkok merah tidak sembarangan
diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk
mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu
roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima
tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan
menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan
mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa
sakit atau gila bila mendengar tariu.
Orang-orang yang sudah dirasuki
roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati
korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah
orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk
keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis
akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.
Mangkok merah terbuat dari teras
bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk
bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan
lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian
(ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk
terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti
dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat
berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan.
Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan
kain merah.
Menurut cerita turun-temurun
mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi
lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967.
pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi
lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi
dengan Malaysia.
Menurut kepercayaan Dayak, terutama
yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek
kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis
mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa
asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke
dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan
ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari
langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).
1.8 Seni
Tari Dayak
1.8.1 Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan
orang menanam padi. Tongkat menggambarkankayu penumbuk sedangkan bambu serta
biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padidan wadahnya. Tarian ini cukup
terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara
lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal
oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari
Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
1.8.2 Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang
seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini
sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si
penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil
suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai
dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan
alat musik Sampe.
1.8.3 Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan
keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan
kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut
ditiup oleh angin. Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai
pakaian Tari Kancet Ledo tradisional suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya
memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan
diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.
1.8.4 Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan
sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah
karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan
merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya
seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulubulu
burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan
berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai.
Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak
burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan
pohon. Posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak
mempergunakan gong dan bulubulu burung Enggang dan juga si penari banyak
mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh
lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika
terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.
1.8.5 Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang
gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya
dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam
hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian
lagu Leleng.
1.8.6 Tari Hudoq
Tarian ini dilakukan dengan
menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun
pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat
hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang.
Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama
perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang
banyak.
1.8.7 Tari Hudoq Kita
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini
pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni
untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih
pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok
anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan
tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan
panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk
wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada
dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang
berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.
1.9 Macam-macam
Suku Dayak
v
Suku Dayak Abal
v
Suku Dayak Bakumpai
v
Suku Dayak Bentian
v
Suku Dayak Benuaq
v
Suku Dayak Bidayuh
v
Suku Dayak Bukit
v
Suku Dayak Darat:Dayak Mali
v
Suku Dayak Dusun
v
Suku Dayak Dusun Deyah
v
Suku Dayak Dusun Malang
v
Suku Dayak Dusun Witu
v
Suku Dayak Kadazan
v
Suku Dayak Lawangan
v
Suku Dayak Maanyan
v
Suku Dayak Mali
v
Suku Dayak Mayau
v
Suku Dayak Meratus
v
Suku Dayak Mualang
v
Suku Dayak Ngaju
v
Suku Dayak Ot Danum
v
Suku Dayak Samihim
v
Suku Dayak Seberuang
v
Suku Dayak Siang Murung
v
Suku Dayak Tunjung
v
Suku Dayak Kebahan
v
Suku Dayak Keninjal
v
Suku Dayak Kenyah
v
Suku Dayak Simpangk
v
Suku Dayak Kualant
v
Suku Dayak Ketungau
v
Suku Dayak Sebaruk
v
Suku Dayak Undau
v
Suku Dayak Desa
v
Suku Dayak Iban
v
Suku Dayak Pesaguan
v
Suku Dayak Lebang
1.10
Senjata Tradisional Suku Dayak
Pada zaman penjajahan di
Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi
mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan
sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak
sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru. Berikut ini adalah
senjata-senjata tradisional suku dayak :
Sipet / Sumpitan. Merupakan
senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 -
2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ - ¾ cm yang
digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang
terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak
sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.

Lonjo / Tombak. Dibuat dari besi
dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau
kayu keras.

Telawang / Perisai. Terbuat dari
kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm.
Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah
dalam dijumpai tempat pegangan.

Mandau. Merupakan senjata utama dan
merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan
selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa.
Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan
dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang
disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang
mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya.
Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa
yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger,
Batu Montalat.

Dohong. Senjata ini semacam keris
tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk
dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala
suku, Demang, Basir.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1 kesimpulan
Berdasarkan paparan dan analisis
data pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
jawaban atas permasalahan yang diangkat yaitu antara lain:
1. Sebagian masyarakat suku dayak
pada dasarnya masih sangat menghargai kebudayaan tersebut dan juga sangat
menghormati leluhur mereka, karena dalam kehidupan mereka sangat percaya pada
leluhur mereka, apapun yang ditinggalkan oleh leluhur mereka itulah yang wajib
dikerjakan dan mereka beranggapan bahwa bila ini tidak dijalankan maka aka nada
bencana bagi keluarga mereka dan juga orang yang ada disekitar mereka .
2. Sistem kekerabatan suku dayak
yaitu menggunakan system parental ( ayah dan ibu) .
1.2 Saran
Sebagai warga Negara Indonesia
kita perlu mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada di Negara kita sendiri.
Kadang kita lebih mengenal budaya yang ada di Negara barat melainkan budaya
kita sendiri. Salah satu budaya dari Negara kita adalah budaya suku dayak .
Tentu bukan hanya budaya dayak yang ada di negara Indonesia, melainkan masih
banyak budaya-budaya yang belum kita ketahui . Maka dari itu kita harus
mengenal budaya kita sendiri mulai memberikan wawasan kepada anak-anak sejak
dini agar memahami beragam budaya yang ada di Negeri cercinta ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar