NAMA
:
ALBERTUS DONA WIDODO
(1414035003)
FALKULTAS
ILMU BUDAYA UNIVERSITAS MULAWARMAN
2014
Daftar Isi
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Musik
adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan
terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan
bunyi-bunyian. Walaupun musik adalah sejenis fenomena intuisi, untuk mencipta,
memperbaiki dan mempersembahkannya adalah suatu bentuk seni
B. Tujuan
Tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih jelas mengenai
jenis-jenis 3 alat musik Tradisional Berdawai
yang ada di Indonesia.
BAB
II
Pembahasan
A. Sampe
Sampe
adalah salah satu alat musik tradisional khas Melayu orang-orang souk Dayak
yang hidup tersebar di berbagai wilayah di Kalimantan Timur. Penyebutan alat
musik yang dimainkan dengan cara dipetik ini berbeda-beda dalam tradisi
masing-masing sub souk Dayak yang ada di Kalimantan Timur. Orang-orang souk
Dayak
Dirunut
dari riwayat genetikanya, orang-orang suku Dayak yang hidup tersebar di pulau
Borneo masih termasuk rumpun suku bangsa Melayu. Bahkan, suku Dayak yang
terdiri dari puluhan sub etnis ini tergolong rumpun Melayu Tua atau Proto
Melayu. Leluhur orang Dayak adalah orang-orang dari ras Mongoloid-Austronesia
yang datang ke wilayah Nusantara pada Zaman Batu atau sekitar tahun 2500
Sebelum Masehi. Kelompok migrasi ini berasal dari Yunan (sekarang menjadi salah
satu provinsi di Cina) tiba di bumi Melayu dengan menyusuri Sungai Mekong
melalui Cina, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, hingga ke Laut Cina
Selatan. Selain orang-orang suku Dayak, beberapa suku bangsa di Nusantara yang
masih memiliki garis darah dengan orang-orang Proto Melayu antara lain:
orang-orang Toraja di Sulawesi Selatan, Sasak di Lombok (Nusa Tenggara Barat),
Batak di Sumatera Utara, Nias di Pantai Barat Sumatera Utara, Suku Anak Dalam
di Jambi, Suku Talang Mamak di Riau, Suku Laut di Kepulauan Riau, dan Suku
Rejang di Bengkulu (William A. Haviland & R.G Soekadijo, 1988). Orang-orang suku Dayak yang sebagian besar
menetap di wilayah Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia Timur telah melalui
periodesasi zaman yang sangat lama. Oleh karena itu, kaum Melayu Tua ini
tentunya memiliki peradaban dan kebudayaan beserta semua perangkat adat dan
tradisinya. Salah satu wujud hasil
budaya orang Dayak adalah alat musik tradisional yang memiliki ciri dan
kegunaan yang khas.
Dalam
kehidupan sehari-hari orang Dayak, seni musik dan alat-alat musiknya menjadi salah
satu media yang diperlukan dalam pelaksanaan upacara-upacara adat, selain tentu
saja juga berfungsi sebagai sarana hiburan. Terdapat berbagai jenis alat musik
dalam tradisi kebudayaan orang Dayak, termasuk alat musik pukul, tiup, maupun
petik. Salah satu alat musik petik yang cukup poluler di kalangan suku Dayak,
terutama orang-orang suku Dayak yang hidup di Kalimantan Timur, adalah
sampe. Sampe dalam bahasa lokal suku
Dayak dapat diartikan “memetik dengan jari”. Dari makna namanya itu diketahui
dengan jelas bahwa sampe adalah perangkat musik yang dimainkan dengan cara
dipetik. Namun, penamaan alat musik Melayu Dayak ini ternyata berbeda-beda di
tiap-tiap sub etnis suku Dayak yang ada di Kalimantan Timur. Nama sampe
(sampe’) digunakan oleh orang-orang suku Dayak Kenyah, orang-orang suku Dayak
Bahau dan Kanyaan menyebutnya dengan nama sape (sape’), suku Dayak Modang
mengenal alat musik ini sebagai sempe, sedangkan orang-orang Dayak Tunjung dan
Banua menamainya dengan sebutan kecapai’ (Tim Peneliti, 1993:42). Penyebutan
terakhir, yakni kecapai’, semakin memberikan gambaran yang sedikit lebih jelas
mengenai seperti apa sebenarnya wujud alat musik petik ini. Kata kecapai’
nyaris mirip dengan kecapi, alat musik petik dari Jawa Barat, yang tampaknya
lebih sering didengar oleh masyarakat pada umumnya. Dari segi bentuk, alat
musik petik yang menyerupai sampe adalah hapetan, alat musik khas Batak dari
Tapanuli (Sumatra Utara) dan jungga yang
dimainkan oleh orang-orang rumpun Melayu dari Sulawesi Selatan (http://sukolaras.wordpress.com). Kendati sama-sama berjenis alat musik petik,
namun sampe agak berbeda dengan gitar dalam cara memainkannya.
Dalam
memainkan gitar harus menggunakan satu tangan saja untuk memetik senar,
sedangkan tangan lainnya difungsikan untuk mengatur nada (kunci) pada dawai
(senar) yang terdapat pada gagang gitar. Lain halnya dengan sampe di mana alat
musik ini dapat dimainkan justru dengan jari-jari dari kedua belah tangan.
Bedanya lagi, apabila gitar pada umumnya memiliki 6 (enam) senar, pada sampe
biasanya hanya terdapat 3 (tiga) senar meskipun ada juga sampe yang bersenar 4
(empat) dan seterusnya. Dulu, dawai sampe menggunakan tali dari serat pohon
enau (sejenis pohon aren), namun kini sudah memakai kawat kecil sebagai
dawainya. Pada bagian kepala sampe (ujung gagang), dipasang hiasan ukiran yang
menggambarkan taring-taring dan kepala burung enggang. Burung yang dalam
istilah lokal dikenal dengan nama burung temengan ini memang menjadi ciri khas
suku Dayak dan dianggap sebagai burung
Sampe
adalah alat musik yang berfungsi untuk menyatakan perasaan, baik perasaan riang
gembira, rasa sayang, kerinduan, bahkan rasa duka nestapa. Dahulu, memainkan
sampe pada siang hari dan malam hari memiliki perbedaan. Apabila dimainkan pada
siang hari, umumnya irama yang dihasilkan sampe menyatakan perasaan gembira dan
suka-ria. Sedangkan jika sampe dimainkan pada malam hari biasanya akan
menghasilkan irama yang bernada sendu, syahdu, atau sedih. Terdapat ungkapan
mengenai sampe yang termuat dalam Tekuak Lawe, sastra lisan yang diturunkan
dari generasi ke generasi dalam tradisi masyarakat Dayak, khususnya suku Dayak
Kanyaan dan Kenyah. Ungkapan yang berbunyi sape’ benutah tulaang to’ awah itu
secara harfiah dapat diartikan dengan makna: “Sampe mampu meremukkan
tulang-belulang hantu yang bergentayangan”. Ungkapan tersebut menggambarkan
bahwa alat musik sampe mampu membuat orang yang mendengarnya merinding hingga
menyentuh tulang atau perasaan. Bagi para tetua adat Dayak di zaman dulu,
keyakinan akan kesakralan sampe memang betul bisa dirasakan karena suasana
pedesaan dan nuansa adat pada saat itu masih sangat
Hingga
kini, kepercayaan akan tuah sampe masih diyakini oleh para sesepuh Dayak,
misalnya ketika sampe dimainkan dalam suatu upacara adat. Saat bunyi petikan
sampe terdengar, seluruh orang akan terdiam, kemudian terdengar sayup-sayup
lantunan doa atau mantra yang dirapalkan bersama-sama. Dalam suasana seperti
ini, tidak jarang di antara mereka ada yang kerasukan (trance) roh halus atau roh
leluhur Sampe juga dimainkan pada saat
acara pesta rakyat atau gawai padai (ritual syukuran atas hasil panen padi).
Sampe dimainkan untuk mengiringi tari-tarian yang lemah gemulai. Seiring dengan perkembangan zaman, sampe
kemudian tidak hanya berfungsi sebagai alat musik untuk menyatakan perasaan
saja, namun sampe juga mulai sering dimainkan bersama dengan alat-alat musik
lainnya. Anak-anak muda Dayak gemar memainkan sampe sembari berkumpul bersama
di malam hari. Selain itu, sampe dimainkan oleh kaum lelaki Dayak untuk menarik
perhatian perempuan yang sedang Sampe
juga berfungsi sebagai alat musik hiburan dalam suatu keluarga besar. Tradisi
orang Dayak yang tinggal di rumah betang (rumah besar) membuat sampe menjadi
sarana yang termudah untuk meramaikan suasana atau untuk menghibur ketika ada
salah seorang anggota yang sedang bersedih. Di rumah betang, tersedia sebuah
ruangan besar untuk acara adat atau sebagai ruang keluarga. Di ruang besar
inilah, para pemuda Dayak saling unjuk kemahiran dalam memainkan sampe Tidak
hanya itu, sampe juga sering dimainkan sebagai wujud rasa syukur atas peristiwa
atau moment tertentu, misalnya ketika hasil panen melimpah
B. Gambus
Gambus
adalah sejenis alat musik petik yang berasal dari Timur tengah. Selain musik
gambus, alat musik petik lainnya yang berasal dari TImur Tengah adalah
mandolin. Gambus merupakan salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara
dipetik..
Sejarah musik gambus diawali dari
gambus sendiri mempunyai beberapa macam arti di setiap daerahnya. Di kalangan
masyarakat Jakarta dan Sumatera Selatan gambus dikenal dengan musik yang
dihasilkan oleh orkes gambus. Kemudian di Jakarta, Lampung, Nusa Tenggara
Barat, Riau, Maluku, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan gambus juga dikenal
sebagai alat musik petik yang berdawai. Lalu gambus juga dikenal sebagai
sejenis tari-tarian rakyat dari daerah Bangka dan Sumatera Selatan yang
dibawakan secara berkelompok dan berpasangan dengan instrumen pengiring terdiri
dari sebuah gambus, dua buah gendang dan dua buah marakas. Dalam sejarah musik gambus, menurut para ahli
seperti Kurt Sachs, Hornbostel, Jaap Kuunst dan yang lainnya. Mereka mengadakan
perbandingan dalam penelitian etnomusikologis yang meliputi wilayah Timur
Tengah, India, Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Mereka berpendapat bahwa alat
musik maupun musik gambus berasal dari wilayah Arabia. Dan tentang sejarah
musik gambus ataupun alat musik gambus itu sendiri, masuk ke wilayah Indonesia
bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke daerah-daerah yang bersangkutan,
dan ini yang membuat warna musik gambus bernafaskan agama Islam dengan syair
berbahasa Arab. Kemudian dalam perkembangan sejarah musik gambus, musik gambus
kemudian diperkaya dengan syair berbahasa Melayu dan India. Selain itu, musik gambus
juga sering digabungkan dengan unsur-unsur lagu daerah dengan berbagai ragam
variasi dalam jumlah alat musik yang cukup lengkap. Dan sampai saat ini,
akhirnya kita bisa menemukan sebuah orkes kecil yang menggunakan alat musik
gambus atau tiruan musik gambus dengan lagu dalam bahasa daerah di beberapa
daerah. Sejarah musik gambus berlanjut,
meskipun akhirnya musik gambus memiliki berbagai macam variasi, namun itu semua
tidak melupakan alat musik gambus itu sendiri dan juga tanpa menghilangkan
warna nada Timur Tengahnya. Dalam perkembangan sejarah musik gambus, di
Jakarta, dalam setiap penampilannya musik gambus juga menyertakan beberapa alat
musik dari barat atau alat musik modern, seperti organ, gitar, biola dan yang
lainnya. Dan perkembangan sejarah alat musik gambus di Sumatera Selatan, disini
musik gambus memiliki khasnya tersendiri, baik dari penampilan ataupun iringan
musiknya, alat musik pengiring musik gambus seperti biola, gendang, ketipung,
dan lagu-lagunya berupa pantun dengan berbagai judul. Biasanya satu lagu
terdiri dari enam bait, dengan penyanyi yang merangkap juga sebagai pemain musik
dan juga pandai berpantun.
Dalam sejarah musik gambus, ada
alat musik gambus yang berasal dari arab yang dimainkan dengan cara dipetik
seperti alat musik gitar. Dan di daerah yang satu dengan yang lainnya bentuk
alat musik gambus hampir sama, yaitu terbuat dari kayu, dan yang menjadi
perbedaan adalah ukuran dan jumlah serta bahan dawai. Dalam sejarah musik
gambus terdapat nama Syech Albar yang berasal dari Surabaya, dan juga ada nama
SM Alaydrus, keduanya merupakan musisi gambus yang terkenal di tahun 1940-an.
SM Alaydrus berhasil mengembangkan orkes Harmonium di tahun 1950 menjadi orkes
musik Melayu. Begitupun dengan Syech Albar yang mempertahankan tradisi musik
gambus. Sejarah musik gambus berlanjut, di tahun 1940-an, musik gambus ataupun
lagu-lagunya masih berortientasi ke Yaman Sealatan. Kemudian setelah bioskop Al
Hambara di Sawah Besar banyak memutarkan film-film Mesir, musik gambus lebih
berorientasi ke Mesir. Dari sana dalam sejarah musik gambus, musik gambus pun
mulai mengisi siaran RRI, seperti orkes musik gambus Al-Wardah pimpinan Muchtar
Lutfie dan juga orkes musik gambus Al-Wathan pimpinan Hasan Alaydrus.
Alat musik ini memiliki fungsi sebagai
pengiring tarian zapin dan nyanyian pada waktu diselenggarakan pesta pernikahan
atau acara syukuran.Gambus merupakan salah satu alat musik yang dimainkan
dengan cara dipetik. Alat musik ini memiliki fungsi sebagai pengiring tarian
zapin dan nyanyian pada waktu diselenggarakan pesta pernikahan atau acara
syukuran. Alat musik ini identik dengan
nyanyian yang bernafaskan Islam.
Dalam mengiringi penyanyi, alat musik
ini juga diiringi dengan alat musik lain, seperti marwas untuk memperindah
irama nyanyian. Bentuknya yang unik seperti bentuk buah labu siam atau labu air
(My) menjadikannya mudah dikenal. Alat musik gambus juga dianggap penting dalam
nyanyian Ghazal yang berasal dari Timur Tengah pada masa kesultanan Malaka.
Kedatangan pedagang-pedagang Timur Tengah pada zaman Kesultanan Melayu Melaka
telah membawa buda
C.
Sasando
Sasandu (bahasa rote), atau bahasa kupang
sering menyebut sasando adalah alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara
memetik dengan jari-jemari tangan. Sasando merupakan alat musik tradisional
dari kebudayaan rote. Alat ini bentuknya sederhana bagian utamanya berbentuk
tabung panjang dari bambu, bagian tengah melingkar dari atas ke bawah diberi
penyangga (senda-bahasa rote) dimana dawai-dawai atau senar yang direntangkan
ditabung bambu dari atas bertumpu ke bawah. Penyangga ini menghasilkan nada
yang berbeda-beda pada setiap petikan dawai,
Pulau Rote, Provinsi
Nusa Tenggara Timur merupakan tempat asal usul alat musik sasando. Secara
harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang
artinya alat yang bergetar atau berbunyi.
Bagi masyarakat Pulau
Rote, alat musik tersebut sangat dikenal sebagai musik keseharian. Alat musik
itu berbahan baku daun pohon lontar. Di Pulau Rote, pohon lontar pada saat ini
bukan saja dijadikansumber kehidupan karena menghasilkan tuak, sopi, gula
lempeng, gula semut, wadah pembungkus tembakau/rokok, tikar, haik, sandal,
topi, atap rumah, dan balok bahan bangunan, melainkan lebih dari itu dianggap
punya nilai lebih karena daun pohon lontar makin sering dijadikan resonator
alat musik yang dikenal dengan sebutan sasandu atau sasando. Asal mula alat
musik langka itu, menurut banyak tokoh adat di Pulau Rote, telah dikenali sejak
Rote menjadi bagian dari daerah kerajaan. Dalam legenda memang muncul banyak
versi mengenai sejarah munculnya sasando.
Konon, awalnya adalah ketika seorang pemuda bernama Sangguana terdampar
di Pulau Ndana saat pergi melaut. Ia dibawa oleh penduduk menghadap raja di
istana. Selama tinggal di istana inilah bakat seni yang dimiliki Sangguana
segera diketahui banyak orang hingga sang putri pun terpikat. Ia meminta
Sangguana menciptakan alat musik yang belum pernah ada. Suatu malam, Sangguana
bermimpi sedang memainkan suatu alat musik yang indah bentuk maupun suaranya.
Diilhami mimpi tersebut, Sangguana menciptakan alat Musik yang ia beri nama
sandu artinya bergetar. Ketika sedang memainkannya, Sang Putri bertanya lagu
apa yang dimainkan, dan Sangguana menjawab, "Sari Sandu". Alat Musik
itu pun ia berikan kepada Sang Putri yang kemudian menamakannya Depo Hitu yang
artinya sekali dipetik tujuh dawai bergetar.
Keindahan
bunyi sasando mampu menangkap dan mengekspresikan beraneka macam nuansa dan
emosi. Karena itu, dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur, fungsi sasando adalah
alat musik yang digunakan untuk pengiring tari, penghibur keluarga saat
berduka, menambah keceriaan saat bersukacita, serta sebagai hiburan pribadi
BAB
III
Kesimpulan Dan Saran Inofasi
A. Kesimpulan
Dari
pemaparan diatas dapat saya simpulkan bahwa: Alat musik tradisional yang
berasal dari manusia merupakan musik yang yang keluar dari anggota tubuh. Alat
musik berdawai merupakan alat musik yang dapat menghasilkan suara ketika dipetik.
Bentuk dan bahan bagian-bagian instrumen serta
bentuk rongga getar, jika ada, akan menentukan suara yang dihasilkan instrumen.
Contohnya: Sampeq, Gambus, Sasando, terbagi dua yaitu terbuat dari pohon dan
kayu. Alat ini merupakan alat musik yang memiliki benang yang bisa menghasilkan
suara khas.
B. Saran Inofasi
Adapun inofasi dari saya yaitu bahwa 3 alat -
alat musik Dawai Tradisional ini memiliki kegunaan yang sangat berfungsi
sebagai perkenalan budaya alat musik Tradisional Indonesian agar alat musik
bisa di kenal di Luar, sehingga kita harus melestarikan dan bisa memahami dulu
seperti apa jenis alat musik tersebut agar saat kita memperkenalkan memainkannya,
bisa memahami kegunaannya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar