1.Kebudayaan Bali
1 Latar
Belakang
Keragaman
Budaya merupakan sebuah adat istiadat yang dimiliki masing-masing daerah
tertentu khusus nya di Indonesia, yang mana budaya nya selalu berkembang atau
sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar untuk diubah dan tidak dapat
dipungkiri keberadaannya. Disini saya ingin menjelaskan tentang keragaman
budaya yang dimiliki oleh daerah Bali.
Keragaman
yang dimiliki oleh daerah bali sangat lah kaya dan banyak sekali, mulai dari
budaya adat yang dimiliki tiap penduduk di bali, agama yang dianut, kesenian
yang dimiliki, makanan khas yang dimiliki daerah dali, rumah adat bali, baju
adat bali, serta tempat-tempat untuk beribadah di daerah bali. Oleh karena itu,
saya akan menjelaskan lebih jelas mengenai budaya daerah Bali.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Penjelasan
tentang Kebudayaan Bali
Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi
salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok.
Ibukota provinsi bali adalah Denpasar. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk
agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan
berbagai hasil seni-budayanya. Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata.
Seiring dengan peralihan jaman pra sejarah ke jaman
sejarah, pengaruh Hindu dari India yang masuk ke Indonesia diperkirakan memberi
dorongan kuat pada lompatan budaya di Bali. Masa peralihan ini, yang lazim
disebut sebagai masa Bali Kuno antara abad 8 hingga abad 13, dengan amat jelas
mengalami perubahan lagi akibat pengaruh Majapahit yang berniat menyatukan
Nusantara lewat Sumpah Palapa Gajah Mada di awal abad 13. Tatanan pemerintahan
dan struktur masyarakat mengalami penyesuaian mengikuti pola pemerintahan
Majapahit. Benturan budaya lokal Bali Kuno dan budaya Hindu Jawa dari Majapahit
dalam bentuk penolakan penduduk Bali menimbulkan berbagai perlawanan di
berbagai daerah di Bali. Secara perlahan dan pasti, dengan upaya penyesuaian
dan percampuran kedua belah pihak, Bali berhasil menemukan pola budaya yang
sesuai dengan pola pikir masyarakat dan keadaan alam Bali.
2.2 Keragaman Budaya yang dimiliki oleh Bali
· Rumah Adat Bali
Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup
akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan,
palemahan, dan parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi
aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita Karana’’. Pawongan
merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik
antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya,bangunan/arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol ritual yang dibuat berupa patung.
Pada umumnya,bangunan/arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol ritual yang dibuat berupa patung.

·
Sistem Kepercayaan
mayarakat Bali
Masyarakat Bali kebanyakan beragama Hindu, dan percaya
adanya satu Tuhan dalam bentuk Trimurti yang Esa yaitu Brahmana (yang
menciptakan), Wisnu (yang melindungi dan memelihara), dan Siwa (yang merusak).
Selain itu juga percaya dengan para dewa yang memiliki kedudukan yang lebih
rendah dari Trimurti yaitu dewa Wahyu (dewa angin), dewa Indra (dewa perang).
Agama Hindu juga mempercayai Roh abadi. Dan mempercayai semua ajaran-ajaran
yang berada dikitab wedha.
Tempat untuk melakukan persembahyangan (ibadah) agama
Hindu di Bali dinamakan Pura atau Sangeh. Tempat ibadah ini merupakan
bangunan-bangunan suci yang sifat nya berbeda-beda setiap tempat
persembahyangan. Karena banyak sekali hampir beribu-ribu pura atau sangeh yang
masing-masing pura tersebut mempunyai upacara adat yang sesuai dengan perayaan
leluhur mereka sesuai sistem tanggalan nya sendiri-sendiri.

· Hukum
adat Bali
Sebagian besar masyarakat bali adalah menganut Agama
Hindu dan dalam kesehariannya diatur berdasarkan hukum adat Bali. Hukum adat
Bali adalah hukum yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat hukum adat Bali yang
berlandaskan pada ajaran agama (Agama Hindu) dan tumbuh berkembang mengikuti
kebiasaan serta rasa kepatutan dalam masyarakat hukum adat Bali itu sendiri.
Oleh karenanya dalam masyarakat hukum adat Bali, antara adat dan agama tidak
dapat dipisahkan.
·
Tradisi
Upacara Adat potong gigi di Bali
Tak dapat dipisahkannya antara adat dan agama di dalam
masyarakat hukum adat Bali, disebabkan karena adat itu sendiri bersumber dari
ajaran agama. Dalam ajaran agama Hindu sebagaimana yang dianut oleh masyarakat
hukum adat Bali, pelaksanaan agama dapat dijalankan melalui etika, susila, dan
upacara. Ketiga hal inilah digunakan sebagai norma yang mengatur kehidupan
bersama di dalam masyarakat. Etika, susila, dan upacara yang dicerminkan dalam
kehidupannya sehari-hari mencerminkan rasa kepatutan dan keseimbangan (harmoni)
dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karenanya azas hukum yang melingkupi hukum
adat Bali adalah kepatutan dan keseimbangan. Sebagai misal, setiap perempuan
pada prinsipnya boleh hamil, namun perempuan yang patut hamil hanyalah
perempuan yang memiliki suami. Demikian pula selanjutnya dengan
perbuatan-perbuatan yang lainnya.
Walaupun tadi dikatakan bahwa antara adat dan agama tidak
dapat dipisahkan, namun antara adat dan agama msih dapat dibedakan. Agama
(dalam hal ini agama Hindu yang dianut oleh masyarakat hukum adat Bali) adalah
berasal dari ketentuan-ketentuan ajaran dari para maharesi dan kitab suci yang
diturunkannya. Sedangkan adat adalah berasal dari kebiasaan dalam masyarakat
yang dapat mengikuti situasi, kondisi, dan tempat pada saat itu.
Upacara adat potong gigi atau biasa nya orang bali
menyebutnya dengan sebutan metatah merupakan salah satu upacara keaagamaan yang
wajib dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali baik laki-laki maupun perempuan,
karena dipercayai oleh masyarakat bali saat meninggal dunia akan bertemu dengan
leluhur nya di surga.
Adapun makna dari upacara adat potong gigi ini adalah
menandakan bahwa orang tersebut sudah akhir balig atau memasuki usia dewasa,
merupakan wujud berbakti kepada orang tua, seseorang yang telah disucikan akan
lebih mudah menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi, para dewata, dan
leluhur di alam surga. Dalam makna estetika potong gigi dapat menambah kecantikan
agar susunan gigi lebih rapih.

·
Upacara Ngaben
Upacara Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang
dilaksanakan oleh umat beragama Hindu di Bali. Upacara Ngaben diadakan jika ada
orang yang meninggal dan biasanya diselenggarakan oleh anggota keluarga yang
meninggal. Makna dari upacara Ngaben adalah untuk mengembalikan roh leluhur
(roh orang yang sudah meninggal tersebut) ke tempat asalnya.
· Hari Raya Nyepi
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya
Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan
penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti
perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi.
Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk
pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk
rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke
hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam
manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam
semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang
dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

· Kesenian
Musik Khas Bali
Musik
trasional Bali memang mempunyai ciri khas tersendiri dalam cara memainkannya.
Irama musik bali mengingatkan kita pada suatu semangat keceriaan, karena irama
yang dimainkan mengadung kecepatan yang saling berkesinambungan.
Komponen-komponen musik saling menyatu melahirkan suara gemuruh hingga yang
mendengarkan tanpa terasa badan terasa seolah-olah mau bergerak. Kekuatan Musik
bali ada pada kecepatan pukulan gamalan yang bersaut-sautan dalam tempo cepat.
Ada beberapa jenis musik yang mempunyai keunikan tersendiri dalam memainkannya
diantaranya, Gemelan Jegog, Gamelan Gong Gede, Gamelan Gambang, Gamelan
Selunding. Selain musik gamelan dengan menonjolan instrumentalnya, juga
terkadang disatukan dengan irama suara manusia yang saling bersaut-sautan
seperti tari kecak, dimana tarian ini konon menirukan gaya seekor kera. Selain
itu juga ada musik angklung gaya khas Bali yang dimainkan dalam rangka
penyelengaraan upacara pembakaran mayat yaitu Ngaben, serta musik Bebonangan
yang dimainkan pada saat penyelenggaraan upacara tertentu oleh masyarakat Bali.
Dalam mendesain penyajian gamelan gaya Bali mengisyarat kan penampilan
tersendiri sehingga menarik perhatian orang.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jadi,
dapat disimpulkan keragaman budaya yang dimiliki oleh daerah Bali sangat lah
banyak. Seperti cara beretika yang baik sesuai agama dan hokum adat bali yang
berlaku, kemudian rumah adat bali yang memiliki arti pada tiap tiap bentuk dan
ukiran, kesenian di daerah bali juga sangat lah banyak. Tradisi Upacara-upacara
Adat Bali yang beragam juga membuat keragaman akan budaya Bali semakin lengkap.
Sehingga banyak sekali yang harus kita ketahui lebih jauh lagi mengenai
budaya-budaya yang ada di Indonesia ini terutama Bali yang sebenarnya memiliki
budaya yang sangat kental dan beragam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar